Tuesday, June 8, 2010

Khitan

Sinnai Sunat
Kemarin (06 Juni 2010) Sinnai di khitan/ sunat/ sirkumsisi, di usianya yang ke 94 hari (3 bulan). Kesepaktan disunatnya Sinnai ini ter'inspirasi' oleh seorang ibu sekaligus guru dan sahabat kami yang juga menyunat anaknya ketika masih bayi. Kala itu ketika saya berkunjung ke rumah sang Ibu, awalnya saya nggak tau kalau bayi ibu tersebut sudah disunat, namun ketika melihat sang bayi ngompol lalu popoknya di buka "jreng jreng" olala... sudah disunat ternyata. Lalu mengalirlah informasi dan referensi mengenai sunat di usia 'muda'.

Untuk infonya bisa dilihat di sini, di sana dan di situ... sebetulnya di Google juga banyak info mengenai sunat disaat bayi, baik yang pro maupun kontra, silakan di cari sendiri bila kurang puas dengan info diatas ya :)

Oke lanjut, jadi kisah di sunatnya Sinnai hari Ahad kemarin berawal dari jam 3 sore ketika kami berangkat ke rumah "Om Dokter Sakti Penyunat Sinnai" anggota tim yang berangkat adalah saya dan Sinnai ditemani Suami dan oom Hendra yang datang dari Bali, perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam dengan Burung Biru. Ritual sunatnya sendiri dimulai sekitar jam setengah lima setelah semua peralatan, bahan dan asisten Om Dokter siap sedia...

Alhamdulillah Sinnai nggak terlalu rewel, yah nangis sedikit mah biasa yah. Fotonya bisa dilihat di sini. Sinnai disunat pake alat yang namanya CAUTERY (kalo gak salah liat, CMIIW), alat ini bentuknya seperti solder dengan ujung yang tipis, setipis lidi kali ya, terbuat dari besi/ tembaga yang ketika akan digunakan ujung besi ini dipanaskan hingga merah membara, nah inilah yang digunakan untuk memotong kulup (maaf) penis Sinnai. Mungkin karena dibius lokal jadilah Sinnai gak merasakan sakit dan nggak nangis sedikitpun ketika di "snaps"...

Nah setelah proses pengCAUTERYan selesai dan masuk proses penjahitan... Waaa Sinnai mulai menangis... ngis... ngis... Alhamdulillah setelah selesai proses sunat keseluruhan, dan di-mimik-i cucu, Sinnai jadi anteng dan fallen asleep...

Well, begitulah kisah sunat Sinnai :) dan Subhanallah kami diantar pulang ke rumah sama Om Dokter super baik :) Makasih ya Om Dokter...

Setibanya di rumah Sinnai kembali bangun dan nangis, saat itu kira-kira jam 6 sore... dan Sinnai terus minum ASI Eksekutif (bukan eksklusif nih?) sampe jam tujuh, kemudian tertidur sampe maleeem, bangun-bangun jam sepuluh malem, menangis sambil pipis yang muncrat kemana-mana karena nggak ditutupin apa-apa... hehehe, jadilah ada pertunjukan air mancur jam 10 malem itu. Alhamdulillah pertunjukan air mancur malam itu terjadi sampai 3 kali hehe dan besok paginya Sinnai mulai bisa pake popok kain seperti biyasha....

Besoknya, hari Senin tanggal 7 Juni 2010, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan saya yang pertama :) (prikitiw) Sinnai dijenguk oleh salah seorang teman saya yang juga berprofesi sebagai dokter di Jakarta. Melihat burung Sinnai sang dokter menyatakan bahwa burung itu sudah kering dari luka dan jahitan sunat kemarin, dan siap digunakan untuk memproduksi air mancur selanjutnya. Hehehehe.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...