Wednesday, December 28, 2011

Resolusi 2012

Sudah hampir 6 bulan saya tidak nulis di blog ini :P, mungkin karena aktivitas yang lumayan sibuk di Allianz. Alhamdulillah karena sejak 3 bulan terakhir saya super fokus dalam aktifitas menjadi Financial Consultant (FC), saya mulai merasakan hasilnya... Jumlah produksi saya meningkat 900% dari tahun 2010 lalu...

Sebagai tindak lanjut dari fokus dan komitmen menjadi FC di Allianz, maka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim, saya bertekad untuk mewujudkan mimpi saya yang tervisualisasi dibawah ini :).

Monday, June 27, 2011

Kelas Kreativitas PIPILAKA di rumah Sinnai :)

Semenjak lancar berjalan Sinnai mulai aktif bersosialisasi dengan teman-temannya disekitar rumah, karena setiap pagi dan sore adalah waktu Sinnai jalan-jalan keliling komplek sambil bermain :) Semenjak itu Sinnai mulai banyak punya teman, teman-teman Sinnai usianya kebanyakan lebih tua, mulai usia 5 tahun sampai dengan 8 tahun.

Sinnai luar biasa senang saat bermain diluar, tapi Sinnai nggak kalah seru kalo lagi main didalam rumah. Biasanya ada beberapa teman Sinnai yang suka ikutan ketika Sinnai lagi bermain didalam rumah. Yup... bermain, bermain dan bermain adalah aktivitas utama Sinnai setiap harinya, karena memang bermain ini penting apalagi di usia 500 hari pertama seorang balita.

Mengutip dari buku Baby Guidenya Max Media, bermain adalah aktivitas yang sangat penting untuk setiap balita dimana masa ini adalah masa yang paling menentukan pembentukan struktur kepribadian anak secara keseluruhan... 90% nya adalah dari cara pembelajarannya pada masa itu. (Dr.Kathleen Alfano, Ph.D, direktur penelitian anak di Fisher--Price)

Well, pastinya teman-teman Sinnai ini betah sampai ga mau pulang :) karena banyak buku-buku cerita anak koleksinya Sekolah Komik PIPILAKA, dan disini mereka juga dipersilakan untuk mengambar bebas di kertas yang udah disediakan Bunda Sinnai, tidak lupa pensil warna setiap yang datang :). Disamping itu kadang-kadang teman-teman Sinnai juga suka mendengarkan dongengnya Bunda Sinnai... hehehhe,  wahhh jadi teringat kelas kreativitas PIPILAKA dulu :) 

Saturday, June 4, 2011

Teh Kulit Buah Naga




Siang tadi ngobrol - ngobrol sama Bibi Ai, adiknya Mamih, soal sakit kakinya yang terkadang kambuh, kemudian Bi Ai berinisiatif untuk menyembukan sakit kakinya dengan obat-obatan tradisional racikan sendiri yaitu teh dari kulit buah naga, katanya ini resep turun temurun dari nenek moyang, konon dapat meningkatkan kelenturan pembuluh darah:) terus saya tanyakan gimana sih cara membuatnya, Bibi Ai membagi resepnya nih.

Cara membuatnya gampang sekali antara lain : 
Pertama, Kulit buah naga di iris-iris kecil 
Kedua, Kemudian di jemur sampai kering kira-kira 1 hari, 
Ketiga, Setelah kering irisan kulit buah naga nya kemudian diseduh dengan air mendidih
Keempat, Sajikan dan minum di pagi dan malam hari sebelum tidur. Upsss ada efek samping nya kalau udah minum teh ini siap siap bolak - balik buang air kecil.

Setelah meminum teh racikan sendiri, Alhamdulillah Bibi Ai, sakit kakinya hilang dan rasanya enteng ketika di gerakan kembali kakinya. Top markotop kan hasilnya :) 

Penasaran sebenernya apa lagi sih khasiat buah naga dan kulitnya, Pas cari cari di mbah google dapet nih artikel tentang khasiat buah naga ini dia : 

Ternyata selain buah naga nya yang berkhasiat sebagai penurun kadar gula darah pada penderita diabetes dan menghaluskan kulit,  ekstrak daun dan kulit buahnya juga ternyata dapat meningkatkan kelenturan pembuluh darah dan menghambat pertumbuhan sel tumor.

Penurun Kadar Gula Darah

Dengan mengkonsumsi 1 buah naga merah (250 gram) setiap pagi dan sore selama delapan hari berturut-turut akan menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Selama mengkonsumsi buah naga hendaknya penderita berhenti mengkonsumsi nasi karena nasi merupakan sumber gula bagi penderita diabetes.

Menghaluskan Kulit

Menurut Prof. Dr. Muhammad Yusuf ahli pengobatan tradisional China, dalam kebudayaan Tionghoa buah naga dipercaya menghaluskan kulit wajah sehingga tampil lebih cantik, tetapi ia tidak digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit mematikan seperti kanker atau jantung. Buah naga baik untuk mengatasi panas dalam karena bersifat mendinginkan.

Menghambat Pertumbuhan Sel Tumor

Khasiat pohon naga bukan terletak pada buahnya saja tetapi pada daun dan kulit buahnya juga. Hasil penelitian Rosario Vargas Sols dari Laboratorio de Investigation de Fitofarmacologia Universidad Autonoma Metropolitana Xochimilco Meksiko menunjukkan bahwa ekstrak kloroform daun buah naga berdaging putih mengandung senyawa pentacyclic triterpene taraxast-20-ene-3a-ol dan taraxast-12,20(30)-dien-3a-ol. Kedua senyawa itu terbukti melindungi kelenturan pembuluh darah kelinci. Peneliti memperkirakan keampuhan kedua senyawa itu hampir menyamai troxerutin salah satu obat pelindung pembuluh darah mikro yang beredar di pasaran. Obat itu berfaedah mengurangi risiko pecahnya pembuluh darah.

Hasil uji in vitro yang dilakukan Li-chen Wu, peneliti Department of Applied Chemistry National Chi-Nan University menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah naga berdaging merah berpotensi menghambat pertumbuhan sel tumor B16F10 pada dosis 25 gram.


sumber tambahan : http://carahidup.um.ac.id/2009/06/manfaat-buah-naga/

Wednesday, June 1, 2011

Ajarkan 3R Pada Anak

Sinnai memukul alat musik Jimbe dengan sumpit


Didengungkannya 3R (reduce, reuse, recycle) belakangan ini, sebaiknya juga ditularkan pada anak-anak sejak dini. Berikut ini beberapa contoh praktis yang diberikan sebuah LSM aktivitas lingkungan, untuk menanamkan kepedulian anak terhadap lingkungan.

Reduce:
 
  • Biasakan si kecil mengambil makan secukupnya. Kalau kurang, tambah lagi.
  • Memakai kertas tulis secara bolak-balik.
  • Jika hendak belanja ke pasar swalayan, ajak si kecil menyiapkan tas dari rumah.
  • Jangan biasakan anak bergantung pada bungkus makanan disposable yang sulit terurai, seperti styrofoam.
  • Jika membeli produk isi ulang, pilih yang volume besar.

Reuse: 
  • Ajak si kecil mencuci botol selai untuk wadah garam, gula, atau kelereng.
  • Ajak si kecil mencuci botol sirup untuk dipakai sebagai wadah air minum di kulkas.
  • Waktu kenaikan kelas, ajak dia mengguntingi sisa halaman kosong di buku lamanya. Jilid, agar bisa dipakai sebagai block note atau tempat coretan.
  • Ajak dia menyumbangkan baju atau mainannya yang sudah tidak dipakai. Selain mengurangi sampah, cara ini juga akan memupuk kepekaan sosialnya.

Recycle:
  • Ajak mereka membuat kompos.
    Kumpulkan sampah organik, seperti potongan sayur dan kulit buah. Timbun dalam tanah. Biarkan sampai menghitam, sekitar dua minggu, lalu gunakan sebagai tempat menanam.
  • Ajak si kecil bermain membuat kertas daur ulang.
    Potong kertas kecil-kecil. Rendam atau rebus agar mudah lumat. Blender jadi bubur. Tambahkan air hingga mencapai kekentalan secukupnya. Bentuk dengan cetakan sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Keringkan dengan panas matahari. Lalu jadilah!
  • Ajak anak memanfaatkan karton bekas wadah susu sebagai bungkus kado.
    Jika Anda cukup kreatif, ajak si kecil memanfaatkan kemasan isi ulang untuk membuat tas atau tempat pensil.

Jelaskan padanya untuk tidak bersikap egois: yang penting rumah kita bersih, perkara sampah mau menggunung atau menutupi sungai, itu urusan orang lain. Sampah adalah masalah bersama. Setiap keluarga harus punya kesadaran terhadap lingkungan.

Mungkin terdengar klise, tetapi resep berikut tetap akan menjadi cara yang bisa diandalkan. Mulai dari hal-hal kecil. Mulai dari diri kita. Mulai dari sekarang, sejak mereka masih kanak-kanak.


(Sumber: Psikologi Anak)
http://intisari-online.com/home/read/677/ajarkan-3r-pada-anak

Friday, May 27, 2011

Selesaikan Tantrum Sejak Dini, Yuk!


Sinnai ... Sinnai ... Sinnai, sekarang usianya memasuki bulan ke 15, Ohh waktu cepat berlalu ya, rasanya baru kemarin aku mengandungnya. Sekarang Sinnai sudah mulai pintar, berjalan walau masih beberapa langkah, mengoceh ayah, teteh, eyang, meoh, ha ha ha lucu nya :). Banyak hal yang sangat mengagumkan dan lucu terjadi, bahkan kejadian yang jarang terjadi seperti tadi sore, aku di kagetkan dengan amukan dan tangisan Sinnai yang tidak biasa, awalnya aku melarangnya main di luar rumah karena melihat cuaca yang tidak bersahabat, karena dilarang jadi deh Sinnai nangis gak berhenti, di gendong gak mau, di peluk gak mau, yang ada terus menangis, aku hanya bisa terdiam dan berusaha merangkulnya walau gak berhasil menghentikan tangisannya, Sinnai terus menangis dan sepertinya sudah kecapeean, sampai akhirnya Ayahnya datang membujuk dan diajaknya main keluar alhamdulillah berhasil deh Sinnai gak nangis lagi :). Tangisan dan amukan itu terjadi kira kira 20 menit an, huft kasian Sinnai.

Penasaran juga kenapa Sinnai begitu, terus googling deh, cari tahu perilaku balita yang ngambek seperti itu apakah memang biasa atau ada faktor penyebab lainnya, alhamdulillah akhirnya nemu deh di webnya mommiesdaily.com  berikut artikelnya yang aku kutip semoga bermanfaat :

Orangtua yang (pernah) memiliki anak berusia 0-3 tahun tentunya tak asing dengan perilaku ngambek, menangis, menjerit, bahkan memukul saat permintaan atau keinginan anak tidak kita penuhi. Ini rupanya merupakan hal yang terbilang wajar karena pada usia tersebut, anak sedang berada pada proses mengenal dan belajar menghadapi kekecewaan. Kalau begitu, apa yang melatarbelakangi timbulnya luapan emosi tersebut dan bagaimana mengatasinya?

Berikut hasil dari seminar tantrum oleh Bapak Toge Aprilianto yang beberapa saat lalu saya dan sugarenspice ikuti.

Temper tantrum atau yang kerap disingkat ‘tantrum’ sebenarnya merupakan cetusan atau letupan emosi yang tampil dalam bentuk perilaku agresif tak terkendali. Tantrum biasanya muncul saat terjadi situasi yang secara emosi mengecewakan, misalnya saat anak gagal mendapat apa yang ia inginkan atau saat permintaan anak ditolak oleh orangtua. Letupan emosi saat berhadapan dengan situasi yang tak sesuai harapan ini dapat ditampilkan secara agresif terhadap orang lain (memaki, memukul, menendang, mengigit, menjerit, dsb) ataupun kepada diri sendiri (menyakiti diri sendiri). Selain itu, kekecewaan anak juga dapat ditampilkan secara pasif (menarik diri, ngambek, dll).

Tantrum dianggap berbahaya jika tampil dalam bentuk perilaku agresif baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri dimana tak jarang hal tersebut malah menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya.
Latar belakang luapan emosi

Usia 0-3 tahun merupakan masa anak untuk berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang ia kehendaki tak dapat terpenuhi. Rasa kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun kerapkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yg anak rasakan. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dsb demi menghentikan tangisan anak. Hal ini menurut sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbullah yg disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yg nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.

Bagaimana mencegah?

Mengetahui bahwa emosi merupakan hal yg lumrah, kita sebagai orang tua disarankan agar memberi kesempatan kepada anak untuk menghayati dan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka. Artinya, saat anak menangis kecewa atau merasa sedih kita hanya berperan untuk mendampingi, memeluk (jika dibutuhkan) dan menyatakan pengertian kita atas perasaan yang sedang anak rasakan tanpa memberikan intervensi apalagi berusaha menghentikan emosi tersebut. Kita juga dapat mengajarkan anak bentuk atau ekspresi emosi yang menurut kita (orang tua) dapat diterima, misalnya: boleh manangis, boleh berteriak dengan ditutup bantal, dll. Bentuk ini dapat kita tentukan sendiri sesuai dengan budaya dan kebiasaan masing-masing.

Mengatasi tantrum

Jika temper tantrum telah terlanjur muncul dalam bentuk perilaku yg membahayakan dan berpotensi menimbulkan kerusakan, maka tindakan intervensi harus segera dilakukan dan diharapkan tantrum ini sudah akan hilang sebelum anak berusia 3 tahun. Mengapa? Karena semakin besar anak, tenaga juga semakin kuat dan akan semakin sulit bagi orang tua untuk mengendalikan atau mencegah tingkah lakunya yang tak terkendali. Selain itu timbunan emosi ini juga dapat mengarah pada ‘kerusakan’ lain baik secara fisik ataupun bentuk perilaku berbohong, menyalahkan orang lain, menutup diri, merebut milik orang lain secara paksa dan sebagainya.

Langkah yg diambil saat tantrum terjadi:

  1. Pegang anak erat-erat (tangan dan kaki) hingga dia tak dapat memukul/menendang dan melakukan hal berbahaya lain. 
  2. Jangan ajak anak berkomunikasi hingga anak selesai dengn usahanya untuk memberontak (hal ini termasuk jangan berteriak untuk menyuruh anak berhenti).
  3. Dalam waktu 15-20 menit maka rata2 anak akan merasa letih dan berangsur tenang. Saat itulah anak dapat diajak berbicara.
  4. Jelaskan mengapa kita memegangnya erat2 dan mengapa kita tidak memenuhi permintaannya.
  5. Ajarkan anak bagaimana lain kali ia dapat menunjukkan kemarahannya.

Belajar memilih

Pada masa transisi dari masa ‘batita’ menjadi masa kanak2 (usia 3-6 tahun), penting bagi seorang anak untuk belajar mandiri/otonom sesuai dengan kapasitasnya. Kurangnya kesanggupan untuk mengatasi kekecewaan akan membuat anak senantiasa berbenturan dengan orang lain karena ia akan memaknai orang lain sebagai penyebab kesulitan atau ketidaknyamanan yang ia hadapi. Hal ini tentunya akan menyulitkan anak untuk berhubungan secara harmonis dengan orang lain karena akan senantiasa muncul tuntutan-tuntutan dari anak terhadap orang lain.
Hal ini dapat dihindarkan dengan cara mengajarkan anak sejak dini untuk memilih dan bernegosiasi. Tujuannya agar anak memahami bahwa tak semua keinginannya dapat terpenuhi dan bahwa pilihannyalah yang menentukan apa yang dapat ia peroleh dan apa yang tak dapat dia peroleh. Dengan demikian ia akan siap saat berhadapan dengan rasa kecewa saat salah satu keinginannya tak terpenuhi dan memahami bahwa hal tersebut merupakan akibat dari pilihan yang dibuatnya sendiri.

Contoh negosiasi:
Saat si A meminta mainan di toko, ajukan pilihan: beli mainan atau pergi ke Timezone?
Saat si A meminta menonton televisi, berikan syarat agar ia terlebih dahulu melakukan A, B, C dan kemudian dia akan diijinkan menonton televisi.
Tahapan mempelajari pilihan ini dimulai dari pilihan yg enak vs enak, enak vs tidak enak, hingga tidak enak vs tidak enak.
Well moms, semoga berguna ya. Saya juga lagi mencoba nih ….

*Dikirim oleh Ruf Lie, ibu dari Fausto (18 bulan) dan bayi usia 32 minggu didalam rahim
dikutip dari : http://mommiesdaily.com/2011/04/18/selesaikan-tantrum-sejak-dini-yuk/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...